Tampilkan postingan dengan label Pemilu 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemilu 2009. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juli 2009

Kampanye Pemilu 2009 Dapat Memicu Perpecahan Bangsa

Kampanye pemilu 2009 yang sering kita lihat di televisi telah menjurus menjadi ajang ejek mengajak. Para Capres/Cawapres berlomba-lomba membuat iklan yang dinilai sangat menjatuhkan lawan-lawannya. Bahkan mereka tidak segan-segan mengeluarkan biaya besar untuk menyalurkan hasrat kekanak-kanakannya tersebut. Ironis memang sebab mereka adalah calon-calon figur pemimpin bangsa yang akan menjadi panutan seluruh masyarakatnya. Kalau sudah begini apa pandangan negara lain terhadap pemimpin kita yang akan bertugas di masa yang akan datang nantinnya.

Tidak adanya sensor terhadap iklan-iklan kampanye adalah salah satu sebab para kandidat Capres/Cawapres giat melancarkan "opini video" mereka yang dinilai berlebihan itu. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) patut disalahkan atas masalah ini sebab hal tersebut merupakan tugas mereka sebagai lembaga independen pemerintah untuk membatasi adanya penayangan-penayangan yang berbau provokasi. Jangan hanya karena iklan-iklan tersebut berbau politik lantas mereka enggan untuk ikut campur didalamnya. KPI harus tidak tebang pilih dalam hal ini , sebab jika dibiarkan lebih lanjut akan dapat menimbulkan masalah besar nantinya.

Berdasarkan teori Ilmu Negara bahwa kekuasaan dapat menjadikan manusia sebagai serigala bagi manusia lainnya. Oleh karena itulah iklan-iklan kampanye Pemilu 2009 yang sarat akan pesan provokatif timbul sebab yang mereka perebutkan adalah kekuasaan. Sebenarnya Indonesia bukanlah yang pertama dan satu-satunya Negara yang sering mengkampanyekan “kebencian” tehadap lawan-lawannya dalam Pemilhan Umum, banyak pemimpin Negara-negara di dunia yang telah menerapkannya terlebih dahulu. Amerika contohnya, ajang “ejek mengejek” ini sudah ada sejak pemilihan umum zaman presiden Abraham Lincoln. Banyak sekali perbuatan-perbuatan yang memalukan terjadi selama kampanye tersebut. Ini tentunya menggelikan sebab Amerika,yang dinilai sebagai Negara maju panutan Negara-negara lain di dunia , masih juga menerapkan cara-cara yang kuno dalam penyampaian kampanye pemilunya.

Kembali ke Indonesia, kampanye-kampanye yang sering kita lihat di TV selama ini memang sarat akan kebencian. Iklan-iklan provokatif itu beragam-ragam jenisnya akan tetapi inti dari pesannya sama yaitu mencari kelemahan-kelemahan lawannya yang disertai bumbu-bumbu kebencian. Yang lebih memprihatinkan lagi iklan-iklan tersebut sangat panjang durasinya(dinilai dari standard sebuah iklan kampanye) dan penayangannya pun berulang-ulang sehingga masyarakatpun kenyang menyaksikan perang urat saraf dari calon pemimpin bangsanya.

Kesimpulannya bahwa sebenarnya menjadikan televisi sebagai media kampanye itu sah-sah saja akan tetapi perlu diberikan batas-batas yang wajar. Jangan hanya karena sebuah iklan, kubu pendukung capres/cawapres yang satu adu jotos dengan kubu capres/cawapres. Hal ini serius sebab pada dasarnya masyarakat menganggap bahwa capres pilihannya serta para pendukungnya adalah keluarga mereka, sehingga jika ada yang menghina, memfitnah atau menjelek-jelekan tentunya mereka tidak akan tinggal diam dan siap melakukan apa saja. Ini yang bahaya , sebab jika masalah ini dibiarkan lebih lanjut maka akan timbul pemecahan-pemecahan kelompok yang menjurus rapuhnya persatuan dan kesatuan bangsa. Kalau begini untuk apa kita menyelenggarakan pesta demokrasi, jika nantinya bakal menghancurkan demokrasi itu sendiri. Mari kita sama-sama menjunjung tinggi sila ke-3 Pancasila dalam setiap kampanye pemilu. Sehingga akan tertanam dibenak kita persatuan yang erat diatas segala perbedaan hal in perlu, sebab pada dasarnya kita adalah satu keluarga yaitu keluarga besar Republik Indonesia. Merdeka….

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails