Semenjak pergi merantau dari kota Medan Tercinta ke Ibukota untuk meraih asa, hasrat makanku kini menjadi terbatas dengan besarnya biaya hidup di Jakarta, sebenarnya enggak besar-besar amat sih namun tidak sebebas pas waktu di Medan. Jakarta meskipun menjadi kota impian untuk beberapa kalangan namun tak bisa dipungkiri kota ini menjadi tempat duka bagi sebagian termasuk saya, duka akan kerinduan akan hal-hal yang ditinggalkan di kota yang lama termasuk makanan. Makanan adalah hal yang membuat hidup menjadi lebih hidup, bukan mau lebayisasi (kata-kata Vicky) namun salah satu yang membuat semangat hidup itu adalah makan-makan, iya enggak???
Sebelumnya di Medan, banyak sekali makanan enak namun murah bisa di jangkau kapan saja 24 Jam dan dimana saja. Suatu fasilitas dan sarana yang menurut saya belum dipunyai oleh kota-kota besar di Indonesia termasuk Jakarta yang merupakan Ibukota, pusat dari segala kegiatan bisnis dan pemerintahan di Indonesia. Nah, salah satu tempat di Medan yang sering saya kunjungi karena rasanya enak dan manyos serta ringan di kantong adalah Pondok Zam-Zam, yaitu suatu Rumah makan frenchise berhaluan Padang yang didirikan oleh Bapak Mahmud yang kini memiliki lebih dari 10 cabang di Medan. Terakhir kali saya lihat Rumah Makan ini juga mempunyai cabang di Jombang di Jawa Timur, tidak jelas apakah keduanya memiliki relasi atau tidak.