Kamis, 21 Februari 2013

Solitude Terhadap Berita Pemerkosaan 3 Bocah di India


Di saat tenang dan santai , solitude adalah salah satu cara yang paling tepat untuk menghilangkan rasa jenuh, kesal , marah setelah satu harian tidak diberikan pekerjaan meninggalkan seorang diri hanyut dalam kesepian yang disertai dengan kebosanan. Memang unik menjadi pribadi seperti saya yang dimana orang-orang pada bahagia kegirangan karena satu harian tidak bekerja, saya malah merasa itu kerugian buat saya bukan karena soal harga diri atau merasa sok hebat agar dibilang sibuk, akan tetapi saya seperti merasa buang-buang waktu tanpa alasan dan digaji buta di akhir bulan. Memang saya dapat uang untuk itu tapi ilmu yang saya dapatkan tidaklah setimpal, maksudnya apakah ini yang saya cari dalam karir saya?. Mungkin saya harus lebih agresif lagi untuk meminta pekerjaan pada Bos, setelah beberapa percobaan selalu ditinggal tanpa balasan. 
 
Solitude sendiri berdasarkan wikipedia adalah
state of seclusion or isolation, i.e., lack of contact with people. It may stem from bad relationships, deliberate choice, infectious disease, mental disorders, neurological disorders or circumstances of employment or situation
 
Adapun pengertian tersebut jika diterjemahkan secara bebas dapat berarti keadaan pengasingan atau isolasi, yaitu, kurangnya kontak dengan orang-orang. Ini mungkin berasal dari hubungan yang buruk, pilihan yang disengaja, penyakit menular, gangguan mental, gangguan neurologis atau keadaan kerja atau situasi. Kalau terjemahan yang saya garis miring merupakan pengecualian dari apa yang saya rasakan saat ini. ya iyalah saya belum gila kali!.

Tapi kali ini saya bukan hendak membicarakan mengenai solitude beserta aspek-aspeknya , akan tetapi berita yang akhir ini mengguncang bukan hanya di India sebagai tempat terjadinya peristiwa akan tetapi di seluruh dunia termasuk juga di Indonesia. Topik beritanya mengenai pemerkosaan 3 (tiga) kakak beradik secara brutal di India. Kejadian ini menjadi heboh karena India baru-baru ini masih belum pulih atas kejadian pemerkosaan mahasiswi kedokteran berusia 23 tahun di sebuah bus beramai-ramai yang kemudian tubuhnya di lempar keluar bus. Sang korban akhirnya meninggal dunia setelah dirawat inap di sebuah rumah sakit di Negara Singapura. Kejam memang, akan tetapi kejadian tersebut terulang kembali beberapa bulan, kali ini  menimpa 3 bocah perempuan malang yang sedang mencari Ibu mereka. Ada beberapa sudut pandang yang saya sampaikan secara lugas di sini.

Kisah awalnya dimulai ketiga kakak adik bersaudara yang berusia 6 tahun,11 tahun dan 13 tahun bersama-sama pergi meninggalkan rumah mereka di Kecamatan Bhandara negara Bagian Maharashtra, India untuk mencari Ibu mereka yang menurut sumber berita yang saya dapat belum diketahui keberadaannya. kepergian mereka yang masih berpakaian sekolah lengkap dengan perlengkapannya itu menjadi penampakan terakhir bagi keluarga mereka.

Menurut hasil autopsi pihak yang berwenang di India, jasad ketiga anak tersebut diperkosa lalu dibunuh, yang lebih mengerikan lagi ketiga jasad mereka dimasukan ke dalam sumur disebuah kota di India Barat. Ketika mendengar berita ini sejenak belum terlintas dalam pikiran saya mengenai pendapat akan peristiwa yang mengerikan ketiga anak kecil yang tidak berdosa itu. Akan tetapi setelah saya melakukan Solitude saya akhirnya dapat merasakan "feel" tersebut.

Yang pertama tentunya membayangkan kegigihan ketiga anak tersebut untuk pergi mencari sosok yang mereka cintai,sang Ibu. Sejenak saya memejamkan mata untuk ikut dalam peristiwa itu saya dapat membayangkan betapa cerianya mereka dalam kebersaman pergi untuk bertemu dengan orang yang mereka kasihi. Mereka berani tanpa ada pengawalan orang dewasa pergi menyusuri kota di India yang terkenal dengan tingkat kriminalitasnya yang tinggi untuk mencari sesuatu yang mungkin belum tentu bisa mereka temukan dalam satu hari. Kemudian dalam pikiran saya bisa saya bayangkan perasaan mereka ketika mereka bertemu dengan penjahat yang telah membunuh mereka. Mereka pasti ketakutan, menangis, teriak meronta dan segala tindakan yang pasti dilakukan oleh anak kecil jika disakiti. dan akhirnya pikiran saya jatuh ketika memasuki titik perasaan bagaimana akhirnya ketiga bersaudari itu dibunuh dan dimasukan ke dalam sumur. Sungguh saya berhenti berfikir sampai tahap itu karena saya tidak mau lagi membayangkan ketidakadilan yang terjadi pada bocah-bocah yang tidak bersalah ini.

Hati benak saya meronta seraya bersuara apa sebenarnya salah ketiga anak ini dan apa yang dipikirkan oleh si penjahat sampai tega melakukan hal seperti itu kepada mereka. Apakah dia bukan seorang manusia?, atau dia manusia akan tetapi berhati singa?. Entahlah banyak kecamuk pertanyaan menghinggapi benak ini. Tapi saya ingin tahu apakah si Penjahat ini tahu kalau ketiga bocah malang ini sedang mencari Ibunya? dan jika tahu apakah beliau akan menghentikan perbuatannya seketika?. Saya tidak habis pikir pada manusia, bukan untuk generalisasi semua manusia. Tapi dengan kejadian-kejadian yang terjadi saat ini tentunya mempertanyakan kredibilitas manusia sebagai mahkluk berakal dan berhati nurani. Semua sepertinya tak berlaku bagi si Pemerkosa dan pembunuh ini, sehingga beliau cocok dikatakan binatang berbentuk manusia. Tahukah dia bahwa banyak yang merasa terluka atas perbuatannya ini, lihatlah bagaimana satu penduduk desa tempat tinggal para korban berasal berdemonstrasi menuntut keadilan. Itu menandakan bahwa penjahat ini bukan hanya membunuh dan memperkosa ketiga bocah malang itu akan tetapi seluruh rakyat India dan seluruh masyarakat dunia yang sedang membaca berita perihal kejadian ini.

Saya sangat marah tentunya seperti halnya orang-orang yang mengetahui berita ini, lihatlah bagaiman orang-orang yang berkomentar dalam situs portal dunia maupun situs berita loka, banyak yang memaki, mengancam bahkan ujung-ujungnya berakhir dengan perang SARA dan saling menggurui tentang agama siapa yang paling benar dan yang mana yang buruk. Bahkan yang membuat saya sakit hati, diantara mereka bahkan ada yang terang-terangan mempersalahkan budaya pakaian sebagai sebab terjadinya pemerkosaan ini. Biarkanlah mereka dengan kebodohan dan kebencian yang membelenggu otak dan hati nurani mereka sampai tertutup dengan doktrin kuno pemusnah nurani. Sudut pandang yang saya ingin sampaikan adalah bahwa Kebencian tidak akan membawa kebaikan melainkan hanya akan menyakiti perasaan lebih sakit lagi. memang kejadian ini sangat menyakitkan bagi siapa saja, tapi biarlah kita hanya mendoakan para korban agar tenang bersama Sang Pencipta. Bagi pihak lain dalam kejadian ini seperti sang Pembunuh dan pencela cyber biarkanlah mereka dengan sifat kebiadaban mereka, jangan kita membenci mereka karena hal itu hanya menyakiti perasaan kita lebih lagi, mari kita doakan agar mereka dalam keadaan baik dan bertobat menuju jalan yang benar secara universal.

Rest In Peace for Indian Rape Victims

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails