
Menjalani Hari Natal dalam kesendirian bukanlah hal yang menyenangkan, apalagi untuk anak kost-kostan, semuanya serba sepi mengingat para kawan sekost sudah pergi melalangbuana ketempat asalnya masing-masing. Suasana natal begitu berbeda di sini jika dibandingkan dengan Natal yang dirayakan dengan keluarga di Kampung halaman, meskipun tidak jauh berbeda keadaannya. Natal tahun ini seperti hari-hari biasa bedanya pergi ke Gereja tidak pada hari minggu. dan seperti biasanya jika muslim liburan tiba semuanya pada tutup mulai dari Rumah Makan sampai kedai-kedai yang membuat sengsara hidup semakin menjadi-jadi. Tapi di Medan ini beda jika diperhatikan msekipun tanggal 25 Desember adalah tanggal merah, masih ada saja yang buka termasuk rumah makan, mungkin karena rumah makan di Medan kebanyakan pemiliknya Non-Kristen sehingga mereka tak menganggap hari ini sebagai hari libur.
Tidak ada perbedaan bagi saya yang tinggal jauh dari keluarga oleh karena satu misi yang mengharuskan jiwa untuk bekerja keras mengisi kepala dengan segudang ilmu, guna bekal untuk berperang di kemudian hari. Hari ini tidak seperti Natal jauh sebelum saya mengenal apa itu perayaan. Natal bagi saya seperti sebuah festival yang harus dijalani oleh seluruh anggota keluarga, bersenang-senang lantas tidur dengan kebahagiaan dan kebersamaan. Makanan-makanan yang memanjakan lidah menjadi instrumen yang mendukung semangat natal keluarga ini. Semuanya berbaur dengan perasaan saling memaafkan diantara sesama anggota keluarga. Silahturahmi ke kerabat-kerabat dekat pun menjadi ajang yang juga ditunggu-tunggu. Sungguh menyenangkan semuanya.
Akan tetapi Saya tidak merasakan Natal itu sekarang, saya ingin merasakan kembali Natal bersama keluarga dan mengecap keheningan dan kesucian malam Natal di Gereja. Sungguh hal yang tidak ingin saya lewatkan perayaan yang hanya datang satu kali dalakm satu tahun ini. Hati merasa kesal lantas menyalahkan nasib mengapa hal ini bisa terjadi. Hah?? apakah ini adil untukku? atau hanya aku saja yang terlalu naif terhadap kehidupan, tapi entahlah mengapa hal ini tersu menghantui minggu-mingguku sebelum menjelang Natal tiba.
Meskpin Saya tidak dapat merasakan Natal Keluarga tahun ini , saya yakin saya dapat merasakan kembali semangat dan kemeriahan Natal bersama keluarga di kemudian hari seperti pepatah mengatakan bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, maksudnya mungkin saya tidak mendapatkan kebahagiaan Natal pada tahun ini, tapi siapa yang tahu kalau di masa yang akan datang perayaan Natal dalam kehidupan saya lebih meriah dari apa yang saya bayangkan sebelumnya, karena yang jelas harapan itu adalah hak setiap orang untuk mendapatkannya.
He..he.. celoteh nya terlalu panjang nih. BTW Selamat Hari Natal Semua, Tuhan Yesus Memberkati.
Tidak ada perbedaan bagi saya yang tinggal jauh dari keluarga oleh karena satu misi yang mengharuskan jiwa untuk bekerja keras mengisi kepala dengan segudang ilmu, guna bekal untuk berperang di kemudian hari. Hari ini tidak seperti Natal jauh sebelum saya mengenal apa itu perayaan. Natal bagi saya seperti sebuah festival yang harus dijalani oleh seluruh anggota keluarga, bersenang-senang lantas tidur dengan kebahagiaan dan kebersamaan. Makanan-makanan yang memanjakan lidah menjadi instrumen yang mendukung semangat natal keluarga ini. Semuanya berbaur dengan perasaan saling memaafkan diantara sesama anggota keluarga. Silahturahmi ke kerabat-kerabat dekat pun menjadi ajang yang juga ditunggu-tunggu. Sungguh menyenangkan semuanya.
Akan tetapi Saya tidak merasakan Natal itu sekarang, saya ingin merasakan kembali Natal bersama keluarga dan mengecap keheningan dan kesucian malam Natal di Gereja. Sungguh hal yang tidak ingin saya lewatkan perayaan yang hanya datang satu kali dalakm satu tahun ini. Hati merasa kesal lantas menyalahkan nasib mengapa hal ini bisa terjadi. Hah?? apakah ini adil untukku? atau hanya aku saja yang terlalu naif terhadap kehidupan, tapi entahlah mengapa hal ini tersu menghantui minggu-mingguku sebelum menjelang Natal tiba.
Meskpin Saya tidak dapat merasakan Natal Keluarga tahun ini , saya yakin saya dapat merasakan kembali semangat dan kemeriahan Natal bersama keluarga di kemudian hari seperti pepatah mengatakan bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, maksudnya mungkin saya tidak mendapatkan kebahagiaan Natal pada tahun ini, tapi siapa yang tahu kalau di masa yang akan datang perayaan Natal dalam kehidupan saya lebih meriah dari apa yang saya bayangkan sebelumnya, karena yang jelas harapan itu adalah hak setiap orang untuk mendapatkannya.
He..he.. celoteh nya terlalu panjang nih. BTW Selamat Hari Natal Semua, Tuhan Yesus Memberkati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar