Pukul sudah menunjukan jam 16.00 WIB, aku bergegas mengemas diri untuk perki ke Puskom, yaitu sebuah Layanan Internet gratis yang terdapat di Universitas tempatku meraih asa. Gembira sekali rasanya jalan-jalan seraya nongkrong di Puskom pada sore hari. Inilah rasanya masa-masa kebebasanku yang pasti tidak akan kulupakan sepanjang hayatku. Setiba di Puskom aku cepat-cepat memarkirkan sepeda motorku sambil langsung masuk keruangan yang penuh dengan komputer keluaran terbaru itu.
Setiba didalamnya aku dengan cepat duduk dan menguasai salah satu unit komputer yang disediakan disana. Wah sudah tak sabar rasanya ingin berselayar didunia maya yang merupakan kegemaranku sejak SMA. Kutekanlah tombol perangkat lunak pendukung keinginanku untuk jalan-jalan di dunia cyber, namanya Mozilla Firefox. Masih terhimpun semua kebahagianku seraya tiba-tiba terbesit dibenak untuk meninjau nilai-nilaiku hasil perjuanganku selama bertempur di Fakultas Hukum USU dalam putaran Semester IV. Sebenarnya hampir sebagian besar niali-nilai tersebut sudah keluar dan telah kulihat dalam portal Kemahasiswaan, akan tetapi ada satu mata kuliah yang nilainya belum juga keluar, Hukum Adat Lanjutan. Selama berhari-hari aku sangat menanti lantas berharap-harap cemas akan apa jadinya nilai yang akan kudapatkan. Pada awalnya aku memprediksi nilaiku bakal bagus, akan mendapatkan nilai A, nilai ini akan sangat membantu Index Prestasi(IP) ku, aku akan sangat bangga sekali dengan diriku nantinya maka segera aku buka situs itu.
Dengan hati yang cemas dicampur dengan perasan bahagia, bangga dan bebas aku lantang menorobos pintu-pintu portal tersebut. Akan tetapi tidak ada badai, tidak ada petir tiba-tiba saja aku seperti disambar oleh arus listrik yang berkekuatan berkilo-kilo wattt, hancur lebur perasaan dan nuraniku. Kepalaku panas tidak terbendung, hatiku bak bagaikan gunung berapi yang siap-siap untuk menyemburkan laharnya. Mentalku ronyok seperti terinjak oleh raksasa yang mengamuk tak terkendali. Nilaiku yang keluar pada sore tanggal 18 Juli 2009 itu berwujud C, suatu hal yang tidak terprediksi sebelumnya olehku, aku merasa gagal, aku merasa ketidakadilan menghampiriku. Aku seperti korban pembunuhan yang tidak sanggup membela dan menuntut haknya. aku terbelenggu oleh ketidakberdayaan dan ketidakberuntungan. Aku telah Mati, aku tidak sanggup lagi berdiri sambil ada angin segar yang akan menghampiriku. Aku menyerah.
Dengan perasaan yang hancur aku mencoba dosen yang mengasuh kami dalam mata kuliah yang bersangkutan. Karena aku tidak mempunyai nomor dosen itu, ku sms teman seperjuanganku. tit-tit dalam hitungan menit kudapatkan nomor itu. Akan tetapi berkali-kali aku hubungi tetap saja tidak ada jawaban, darah lukaku yang menganga semakin deras keluar menguras kebahagianku yang kuperoleh beberap menit yang lalu. aku tidak akan menyerah aku sampai aku mendapatkan keadilan. Tuhan berkatilah aku, aku tahu aku semakin jauh dari-Mu beberapa bulan ini, aku tahu aku yang bersalah aku akan berubah ya Tuhan, tapi aku mohon Tuhan sabar menungguku sebab aku sangat lamban meraih permukaan kemuliaan-Mu itu Tuhan. Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar